Perencanaan Pembangunan Pabrik Teh

TUGAS ANALISIS DAN ESTIMASI BIAYA

PERENCANAAN PEMBANGUNAN PABRIK TEH

Disusun Oleh:

Nama/ NPM          :     1. Denny Sindy Pratama    / 30408263

2. Eko Hadi Nur Effendy   / 30408307

3. Natal Maha Prima G      / 30408606

4. Gerson Eliezer Jelira      / 31408051

5. Fajar Sidik                        / 30408334

6. Eki Dwi Prasetyo       / 30408303

7. Ragil Rahmadi                / 30408676

Kelas                      : 3 ID 01

 

JURUSAN TEKNIK INDUSTRI

FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI

UNIVERSITAS GUNADARMA

DEPOK

2010

 

Perencanaan Pembangunan Pabrik Teh

  1. Teh atau tea (dalam bahasa Inggris), merupakan minuman yang sudah tak asing lagi bagi masyarakat. Minuman berwarna coklat ini sering dikonsumsi masyarakat di belahan dunia. Indonesia sebagai salah satu negara penghasil teh terbesar di dunia masih minim sekali dalam pengolahan pucuk teh. Pengolahan pucuk teh tidak bisa dilakukan sembarangan, untuk itu perlu dilakukan proses yang sesuai prosedur pengolahan teh. Prosedur pengolahan teh dapat terlaksana dengan baik jika diselesaikan oleh tangan-tangan para ahli. Para ahli dapat bekerja dengan baik, jika didukung oleh suasana dan tempat bekerja yang baik pula. Suasana dan tempat bekerja yang baik, bisa diciptakan di dalam pabrik yang sesuai standar. Untuk itu pada prosesnya, dalam membuat teh perlu di buat pabrik teh yang sesuai dengan standar.

Teh biasanya sering disajikan untuk tamu maupun keluarga. Teh sangat digemari karena selain harum, juga memiliki khasiat bagi kesehatan. Dalam teh terdapat zat-zat yang dapat digunakan untuk terapi kesehatan. Manfaat teh bagi masyarakat antara lain, adalah sebagai antioksidan, memperbaiki sel-sel yang rusak, menghaluskan kulit, melangsingkan tubuh, mencegah kanker, mencegah penyakit jantung, mengurangi kolesterol dalam darah, melancarkan sirkulasi darah. Dengan demikian, pantas jika masyarakat menyebut minuman ini sebagai minuman kaya manfaat.

Teh sebagai minuman yang kaya manfaat memiliki beberapa kandungan zat di dalamnya, antara lain. Polifenol, pada teh berupa katekin dan flavanol. Senyawa ini berfungsi sebagai antioksidan untuk menangkap radikal bebas dalam tubuh juga ampuh mencegah berkembangnya sel kanker dalam tubuh. Radikal bebas ada di tubuh kita karena lingkungan udara yang tercemar polusi dan juga dari makanan yang kita makan. Vitamin E, dalam satu cangkir teh mengandung vitamin E sebanyak sekitar 100-200 IU yang merupakan kebutuhan satu hari bagi tubuh manusia. Jumlah ini berfungsi menjaga kesehatan jantung dan membuat kulit menjadi halus. Vitamin C, berfungsi sebagai imunitas atau daya tahan bagi tubuh manusia. Selain itu vitamin C juga berfungsi sebagai antioksidan yang diperlukan untuk ketahanan tubuh manusia terhadap penyakit. Vitamin A, terdapat pada teh berbentuk betakaroten merupakan vitamin yang diperlukan tubuh dapat tercukupi.

Pertumbuhan dan perkembangan tanaman teh dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Faktor lingkungan fisik terdiri dari iklim dan tanah, sesdangkan faktor lingkungan biologi terdiri dari tanaman naungan dan gulma. Sebagai tanaman yang berasaldari daerah subtropis, maka tanaman teh di Indonesia menghendaki udara yang sejuk. Suhu udara yang baik bagi tanaman teh adalah suhu harian yang berkisar antara 130-250˚C yang diikuti oleh cahaya matahari yang cerah dan kelembaban relatif pada siang hari tidak kurang dari 70%. Tanaman teh akan berhenti perkembangannya apabila suhu dibawah 130˚C dan diatas 300˚C serta kelembaban relatif kurang dari 70˚C, serta curah hujan minimum yang diperlukan tanaman teh adalah 1.100 mm/tahun.

Gambar 1.1 Perkebunan Teh di Dataran Tinggi

Faktor lingkungan fisik lainnya yang mempengaruhi tanaman teh adalah tanah. Tanaman teh menghendaki tanah yang subur, yang mengandung banyak makanan bagi tanaman. Tanaman teh menyukai tanah yang agak masam dengan pH 5,5. Sedangkan untuk ketinggian tempat dari permukaan laut, akan baik bila tumbuh dan berkembang pada ketinggian 1200-1800 m diatas permukaan laut, namun, ketinggian tempat dari permukaan laut tidak menjadi faktor pembatas bagi pertumbuhan tanaman teh, sepanjang iklim dan tanahnya serasi bagi tanamn teh. Oleh karena itu, kebun-kebun teh di daerah rendah memerlukan pohon pelindung. Salah satu maksud dari pohon pelindung ini ialah untuk mempengaruhi suhu udara, agar suhu udara lebih rendah yang memungkinkan teh dapat tumbuh dengan baik.

Gambar 1.2 Perkebunan Teh

Gambar 1.3 Proses Pemetikan Daun Teh

2.    Perusahaan kontraktor yang membuat pabrik teh adalah PT. Bauer Pratama Indonesia. Perusahaan tersebut beralamat di Cilandak Commercial Estate Gedung 110 Bldg 110NGW, Cilandak Commercial Estate Gedung 110, Jalan Cilandak KKO Raya, 12560, Jkt, Indonesia.

Kemudian didapatkan tanah di daerah Mangunreja Tasikmalaya dengan luas yang diinginkan yaitu 500m2. Harga permeter persegi di daerah tersebut adalah Rp 800.000. Sehingga, dana yang dikeluarkan untuk pembelian lahan tanah sebesar  Rp 400.000.000.

Luas lahan sebesar tersebut dibagi menjadi 2 bagian, bagian pertama sebesar 300m2 untuk lahan pengolah pabrik. Sedangkan, sisanya sebesar 200m2 dimanfaatkan untuk penghijauan, kantin, dll.

Biaya-biaya untuk bangunan dari pabrik seluas 500m2 yang telah dianggarkan oleh kontraktor adalah sebagai berikut:

1. Biaya desain bangunan                                     :  Rp  30.000.000

2. Bahan baku pembangunan                                :  Rp. 300.000.000

3. Biaya Kontraktor                                              :  Rp. 170.000.000

4. Pembangunan infrastruktur                               : Rp. 50.000.000

5. Perlengkapan interior dalam pabrik                  : Rp.  50.000.000

Sehingga total biaya pembangunan pabrik teh yang baru sebesar Rp. 1.000.000.000,-

Proses Pembuatan Teh

Proses pembuatan teh meliputi beberapa tahap yang harus dilakukan dalam membuat teh yang berkualitas. Berikut ini adalah tahapan-tahapan membuat teh:

1. Proses pelayuan pucuk

Pucuk teh yang telah dipetik akan terjadi perubahan – perubahan senyawa polisacharida dan protein. Ini mengakibatkan perubahan gula didalam daun yang dilayukan. Kandungan asam amino akan meningkat demikian pula dengan asam – asam organik lainnya. Semua perubahan ini dalam istilah pengolahan disebut sebagai proses pelayuan hal ini memberi pengaruh terhadap mutu teh. Perubahan – perubahan kimiawi ini akan terganggu apabila pucuk terkena udara panas secara berlebihan atau pucuk mengalami kerusakan mekanis. Agar pucuk dapat digiling dengan baik pada proses penggilingan maka pucuk harus lentur. Oleh sebab itu kandungan air pucuk harus dikurangi dengan cara menghembuskan angin dengan RH rendah melalui pucuk.

Pelayuan fisik ini dapat dilaksanakan dengan menggunakan udara panas dengan waktu kurang dari 6 jam. Kerataan tingkat layu fisik sangat menentukan mutu teh. Hasil petikan pucuk yang kasar dan rusak tidak akan menghasilkan mutu yang baik. Kira – kira 65 % air yang terkandung di dalam pucuk segar harus dihilangkan selama proses pelayuan, agar pucuk layu cukup lentur dan lemas untuk dapat digiling tanpa terpotong-potong.

Di dalam praktek pelayuan dilakukan dengan menggunakan kontak layuan ( Witehring trough ) atau dengan menggunakan rak – rak kayu yang ditumpuk. Di ujung kotak atau rak terdapat kipas yang berfungsi untuk menarik hawa panas yang dihasilkan dari mesin pengeringan yang terletak disebelah bawah kamar pelayuan.

2. Penggilingan Pucuk Layu

Tujuan utama penggilingan dalam pengolahan teh hitam adalah :
Mememarkan dan menggiling seluruh bagian pucuk agar sebanyak mungkin sel – sel daun mengalami kerusakan sehingga proses fermentasi dapat berlangsung secara merata. Memperkecil daun agar tercapai ukuran yang sesuai dengan ukuran grade – grade teh yang diharapkan oleh pemasaran. Memeras cairan sel daun keluar sehingga menempel pada seluruh permukaan partikel – pertikel teh.

Mesin – mesin dan peralatan yang digunakan dalam pembuatan teh terdiri dari:

  1. Mesin penggilingan Open Top Roller( OT ) yaitu sebuah selinder yang terbuka di bagian atasnya dan bergerak memutar horizontal di atas sebuah meja yang dilengkapi dengan jalur – jalur gigi dan kerucut tumpul  pada titik pusatnya, alat ini terbuat dari bahan metal yang tahan karat dimana kecepatan putarannya 42 rpm.
  2. Mesin penggiling press Cap Roller ( PC ) yang bentuknya sama dengan OT. Hanya saja penekan atau press cap untuk memberikan tekanan pada teh yang sedang digiling.
  3. Mesin giling Rotervance ( RV ) yaitu sebuah silinder yang berukuran garis tengah inci ( 20 cm ) yang diletakan horizontal. Di dalam selinder ini terdapat as yang dilengkapi dengan sirip – sirip spiral pengisi. Pada bagian ujung terdapat plat pengatur tekanan berbentuk silang. As berputar dengan kecepatan 40 – 46 rpm tergantung dari kebutuhan.
  4. Mesin ayak pemecah gumpalan teh atau Ballbreaker sifter ( BBS ). yang berputar horizontal dengan rpm 140 dilengkapi dengan konveyor pengisi untuk mengatur kerataan jumlah teh yang diayak.
  5. Mesin pengering konvensional (endles chain pressure dryer).
  6. Mesin winnower yang digunakan untuk memisahkan ukuran teh sesuai grade-grade yang beredar di pasaran.
  7. Mesin pengepakan digunakan untuk membungkus produk jadi dengan ukuran beratnya adalah 1 kg.

Proses penggilingan dapat juga dikatakan proses sortasi basah., karena pada tahap ini hasil penggilingan akan berbentuk beberapa jenis bubuk teh : bubuk – 1, bubuk- 2, bubuk-3, bubuk-4 dan yang paling kasar disebut badag. Bubuk –1 dihasilkan dari pengayakan hasil pertama dari gilingan kedua dan demikian selanjutnya. Urutan proses penggilingan di pabrik teh Maleber disusun sebagai berikut ( salah satu dari program giling ) : gilingan pertama menggunakan OT selama 40 Menit gilingan kedua : seluruh hasil gilingan pertama digiling ulang dengan rotervane 8” pengayakan hasil gilingan rotervane 8” (bubuk–1).

Penggilingan ketiga menggunakan PC untuk sisa pengayakan ke-1 pengayakan hasil gilingan PC ( bubuk – 2 ). Penggilingan keempat menggunakan PC untuk sisa pengayakan ke-2 pengayakan hasil gilingan PC ( bubuk –3 dan badag ) Penggilingan PC memakan waktu 30 menit dengan pemberian tekanan 2 x 10 menit dan melepas tekanan ( Kirab ) 2 x 5 menit. Berbagai jenis program digunakan dalam praktek oleh pabrik – pabrik teh hitam di Indonesia. Dalam hal ini yang diperhatikan adalah bahwa proses penggilingan ini disertai oleh proses fermentasi.

Proses fermentasi memerlukan pengaturan waktu yang tepat. Oleh sebab itu setiap program giling harus di tunjang oleh kelengkapan mesin yang tepat dan cukup jumlahnya dengan layout penempatan yang tepat pula. Kesemuanya disesuaikan pula dengan potensi hasil kebunnya. Mutu hasil akhir pengolahan teh hitam yang mantap ( konstan ) dari hari ke hari, merupakan tujuan yang utama. Didalam tahap proses penggilingan ini pula, dipersiapkan dan dibentuk ukuran teh, sehingga pada tahap sortasi teh tersebut sudah dalam ukuran yang sama.

Hasil penggilingan dan pengayakan basah yang baik, adalah yang dapat menghasilkan persentase yang setinggi mungkin untuk bubuk 1 dan 2 dengan ukuran teh yang kecil. Persentase bubuk 1 dan bubuk 2  harus sama dengan persentase bagian muda atau halus dari analisa pucuknya, dan kisama pula dengan persentase mutu ke 1 hasil sortasi keringnya.

Waktu lama fermentasi dihitung ketika pucuk layu masuk kedalam mesin giling pertama sampai bubuk hasil giling pertama dimasukan kedalam mesin pengering. Agar semua bubuk basah yang dihasilkan setiap penggilingan mengalami waktu lama fermentasi yang sama, diperlukan perhitungan penyesuaian output gilingan dan input ( kapasitas ) mesin pengeringnya. Untuk itu setiap bubuk hasil penggilingan harus ditimbang dan dicatat. program giling diatas ternyata dapat menghasilkan bubuk 1 dan bubuk 2 masing –masing 30 % dan 40 % ( jumlah 78 % sampai 80 %).

Ruang penggilingan memerlukan kelembaban udara 95 % untuk menjaga agar tidak terjadi penguapan air dari teh yang sedang digiling. Khususnya bubuk basah yang sedang menungggu giliran masuk kedalam mesin pengering. Pengurangan kadar air dalam bentuk basah dapat menghambat proses oksidasi. Udara dalam ruangan harus segar dan cukup karena proses oksidasi memerlukan oksigen yang cukup pula.
Karena teh sangat peka terhadap bau-bauan, maka ruangan dan peralatan harus dijaga agar selalu bersih dan tidak bau. Air yang bersih untuk mencuci peralatan dan lantai ruangan harus cukup tersedia.

3. Pengeringan

Selain menghentikan proses oksidasi dalam bubuk teh basah, pengeringan bertujuan pula untuk menurunkan kandungan air didalam teh sampai +3 % kandungan air yang rendah ini bertujuan agar hasil pengeringan dapat mempertahankan mutu baiknya.
Mesin pengering konvensional yang hingga sekarang masih banyak digunakan industri teh adalah Endles Chain pressure Dryer ( ECP ).

Mesin ini mengeringkan teh diatas rantai – rantai baki. Mesin dengan rantai – rantai baki 2 tingkat disebut “two stage ECP” yang bertingkat 3 disebut “three stage ECP” dan yang 4 disebut “four stage ECP”. Jenis ECP yang mutakhir yang banyak digunakan adalah jenis two stage.
Udara panas dengan suhu + 98°C dihembuskan dari bawah melalui lapisan teh diatas rantai terbawah kemudian keluar melalui lapisan teh diatas rantai baki paling atas.

Suhu udara yang keluar dari mesin pengering ada sekitar 49°C kurang lebih 20 menit diperlukan untuk mngeringkan teh bubuk hingga kadar airnya mencapai 3%. Proses pengeringan bersama dengan proses penggilingan merupakan bagian dari pengolahan teh hitam yang harus dijalankan sesuai dengan tahapan pelaksanaan pekerjaan.

4. Sortasi keringan dan penyimpanan

Tujuan utama dari sortasi kering ini adalah memisahkan ukuran – ukuran teh yang terjadi akibat proses penggilingan menjadi kelompok-kelompok grade teh yang sesuai dengan permintaan pasaran teh sekarang (Internasional). Karena teh kering sangat peka terhadap kelembaban udara (sangat higroskopis) maka proses sortasi kering ini harus dilaksanakan sesederhana dan secepat mungkin. Grade – grade ( jenis- jenis ) teh hitam yang dihasilkan sebagian besar oleh pabrik – pabrik di Indonesia sekarang adalah :

1. BOP = Broken Orange Pecco

2.BOPF = Broken Orange Pecco Pannings

3.PF= Pecco Panings

4.Dust

5.BP = Broken Pecco

6. BT = Broken Tea

Persentase grade pertama ini umumnya dapat mencapai 70 % hingga 85 % dari semua teh yang dihasilkan tergantung dari mutu standar petikan dan kondisi pucuknya. Besar kecilnya ukuran, sehingga sesuai dengan permintaan standar ukuran pasaran teh hitam, tergantung dari standar petikan, derajat layuan dan program gilingnya.

Mesin – mesin pengayak yang digunakan dalam sortasi kering, dibedakan satu dengan yang lainnya oleh jenis geraknya. Rotating sifter adalah mesin ayak yang gerakannya berputar horizontal. Sedangkan yang gerakannya maju mundur disebut mesin ayak Reciprocating dan yang naik turun disebut Vibrating Sifter disamping itu mesin pemisah tulang Electrostatic Stalk Separator. Winnower adalah mesin pemisah ukuran teh menurut berat jenis dengan menggunakan kipas penghisap angin.
Mesin ayak yang gerakannya maju mundur digunakan untuk memisahkan ukuran – ukuran yang bentuknya memanjang dari ukuran – ukuran teh yang bentuknya bulat.

Segera setelah selesai proses sortasi kering ini, semua teh ditimbang menurut jenis gradenya untuk kemudian dimasukan kedalam peti penyimpanan (peti miring atau tea bin). Dapat dibedakan bahwa sejumlah hasil timbangan grade-grade teh tersebut akan lebih besar dari pada berat teh keringnya. Besar kecilnya persentase overweight ini tergantung dari kelembaban udara ruang sortasi dan lamanya waktu yang diperlukan untuk proses sortasi. Penyimpanan teh dalam peti miring akan memberikan kesempatan bagi suatu proses pematangan mutu dan mengumpulkan teh menurut jenisnya sehingga dapat di kemas dalam jumlah yang sama pada setiap kali pengepakan.

3.    Total biaya pembangunan adalah sebesar Rp.1000.000.000, dengan demikian biaya pembangunan pabrik teh ini dapat dikatan lebih murah. Sisa dana dari pembangunan pabrik teh ini, akan digunakan sebagai modal kerja, yang meliputi pembelian bahan baku pembuatan teh seperti pembelian pucuk daun teh, gula, serta bahan-bahan lain yang digunakan untuk proses pembuatan teh, setelah itu untuk ongkos atau biaya tenaga kerja. Kemudian dana tersebut juga digunakan sebagai cicilan pinjaman dan bunga ke bank yang dibayarkan setiap tahun ke bank, dengan besar pembayaran pinjaman Rp.1.000.000.000/tahun dan bunga yang harus dibayar sebesar Rp.500.000.000, lalu biaya pembayaran energi yang dipakai yaitu listrik, setelah itu untuk biaya pengemasan produk yang dihasilkan, kemudian untuk marketing atau pemasaran yang dilakukan lewat media komunikasi seperti iklan ditelevisi, iklan lewat internet maupun memakai spanduk, lalu ada juga sosialisasi kemasyarakat dengan memberikan contoh teh hasil produksi pabrik ,dan perawatan mesin-mesin yang digunakan secara berkala dengan jangka waktu perawatan satu kali setiap bulannya.

4.    Cashflow Perencanaan Pembangunan Pabrik Teh

Diket: Dana Pinjaman = Rp. 4.500.000.000,-

i (bunga) = 10% / tahun

Kapasitas Produksi = 1000 kg/hari = 360.000 kg/hari

Harga Pucuk Teh = Rp. 1500,-/kg

Dit: 1.  Pendapatan/income = ?

2.  Pengeluaran/outcome:

- Pembelian Bahan Baku = ?

- Biaya Tenaga Kerja = ?

- Cicilan Pinjaman dan Bunga = ?

- Energi = ?

- Paking = ?

- Marketing = ?

- Perawatan = ?

3.  Saldo Sebelum dan Sesudah Pajak 10% = ?

4.  Tahun Berapa Lunas / Break Event Point (BEP) = ?

Jawab:

  1. Pendapatan / Dana Pinjaman = Rp. 5.500.000.000,-
  2. Pengeluaran:

-            Pembelian Bahan Baku = Kapasitas Produksi x Harga Pucuk Teh

= 360.000 kg/tahun x Rp. 1500 per kg

= Rp. 540.000.000,-/tahun

- Tenaga kerja yang dibutuhkan adalah 24 operator mesin, 3 orang mandor, 3 orang supervisor, dan 9 office boy yang terbagi dalam 3 shift kerja, dimana 1 shift kerja selama 8 jam. Selain itu, tenaga kerja lain yang dibutuhkan adalah 5 orang dibagian QC dan marketing. Sehingga total semua tenaga kerja yang dibutuhkan untuk pabrik teh yang baru ini adalah 59 tenaga kerja. Berikut ini adalah pengeluaran untuk biaya tenaga kerja:

Biaya tenaga kerja = (24 x Rp. 1.200.000) + (3 x Rp. 1.600.000) + (3 x Rp. 3.000.000) + (15 x Rp. 2.800.000) + (5 x Rp. 2.000.000) + (9 x Rp. 1.000.000)

=   Rp. 28.800.000 + Rp. 4.800.000 + Rp. 9.000.000 + Rp. 42.000.000 + Rp.10.000.000   + Rp. 9.000.000

=   Rp. 103.600.000,-/bulan

=   Rp. 1.243.200.000,-/tahun

-    Biaya Pembangunan pabrik = Rp. 1.000.000.000,-

-    Cicilan Pinjaman dan Bunga

Untuk cicilan pinjaman/tahun = Rp. 1.000.000.000,-

Untuk cicilan bunga/tahun = Rp. 500.000.000,-

Sehingga, biaya cicilan pinjaman dan bunga adalah Rp. 1.500.000.000,-/tahun.

-   Biaya Energi (Energi Mesin dan Energi Listrik)

* Mesin yang digunakan pada perencanaan pembuatan pabrik teh yang baru sebanyak 7. Berikut ini perincian harga dari masing-masing mesin:

1. Mesin penggilingan open top roller (OT)

Harga = Rp. 10.000.000,-

  1. Mesin penggiling press cap roller (PC)

Harga = Rp. 9.350.000,-

  1. Mesin giling rotervance (RV)

Harga = Rp. 8.100.000,-

  1. Mesin ayak pemecah gumpalan

Harga = Rp. 7.600.000,-

  1. Mesin pengering konvensional (ECP)

Harga = Rp. 3.000.000,-

  1. Mesin winnower

Harga = Rp. 3.500.000,-

  1. Mesin pengepakan

Harga = Rp. 2.200.000,-

Jadi, biaya total pembelian semua mesin adalah Rp. 43.750.000,-

*  Energi Listrik

Energi listrik yang digunakan selama sebulan adalah 9524 kwh, dimana harga 1 kwh untuk standar pabrik sebesar Rp. 2100,-. Sehingga, biaya yang harus dikeluarkan untuk kebutuhan energi listrik adalah:

Biaya energi listrik = 9524 kwh/bulan x Rp. 2100,-

= Rp. 20.000.400,-/bulan x 12 bulan

= Rp. 240.004.800,-/tahun

-  Paking

Bahan paking yang terbuat dari plastik yang digunakan untuk pengepakan produk jadi dipesan melalui supplier. Berikut ini adalah perincian biaya paking:

1 pack berisi 500 bungkus sehingga untuk memenuhi kapasitas produksi sebesar 1000 bungkus/hari maka setiap hari dibutuhkan 2 pack, dimana harga 1 pack adalah Rp. 100.000,-

Biaya paking   = 2 pack x Rp. 100.000,- = Rp. 200.000,-/hari x 30 hari = Rp. 6.000.000,-/bulan x 12 bulan = Rp. 72.000.000,-/tahun

-  Marketing

Distribusi produk jadi membutuhkan 2 mobil truk dengan melakukan pengiriman setiap harinya. Berikut ini biaya pembelian truk dan bahan bakar untuk menditribusikan produk jadi:

* Harga 2 mobil truk = Rp. 368.000.000,-

* Biaya bahan bakar = Rp. 200.000/hari x 30 hari = Rp. 6.000.000,-/bulan x 12 bulan = Rp. 72.000.000,-/tahun

*  Biaya promosi/iklan = Rp. 1.350.000,-/bulan x 12 bulan = Rp. 16.200.000,-/tahun

-  Perawatan

Perawatan meliputi perawatan mesin, perawatan mobil, dan perawatan gedung atau pabrik. Berikut ini adalah perincian biaya perawatan:

* Biaya perawatan mesin = 7 mesin x Rp. 500.000,- = Rp. 3.500.000,-/bulan x 12 bulan = Rp. 42.000.000,-/tahun

* Biaya Perawatan Mobil = 2 mobil x Rp. 500.000,- = Rp. 1.000.000,-/bulan x 12 bulan = Rp. 12.000.000,-/tahun

*  Biaya perawatan pabrik = Rp. 1.000.000,-/bulan x 12 bulan = Rp. 12.000.000,-/tahun

3. Saldo sebelum dan sesudah pajak 10%

Saldo akhir / sebelum pajak 10% = Rp. 5.500.000.000,-

Saldo akhir / setelah pajak 10% = Rp. 5.500.000.000,- + Rp. 550.000.000,- = Rp. 6.050.000.000,-

Tahun Berapa Lunas / Break Event point (BEP)

Laba/tahun = Rp. 1.059.645.200,-

n = 1, laba = Rp. 1.059.645.200,-

n = 2, laba = Rp. 2.119.290.400,-

n = 3, laba = Rp. 3.178.935.600,-

n = 4, laba = Rp. 4.238.580.800,-

n = 5, laba = Rp. 5.298.226.000,-

n = 5,9, laba = Rp. 6.092.959.900,- (Break Event Point)

5. Kesimpulan akhir dari perencanaan pembuatan pabrik teh baru adalah biaya pembangunan pabrik untuk kapasitas produksi 1000 kg/hari adalah Rp. 1 milyar. Selain itu, dana pinjaman dari bank sebesar Rp. 5,5 milyar, dimana biaya pembangunan pabrik sudah termasuk ke dalam pinjaman tersebut. Dan sisa dananya digunakan sebagai modal kerja. Biaya pengeluaran keseluruhan dalam membangun pabrik beserta produksinya menghabiskan dana sebesar Rp. 5.161.154.800,- sisanya sebesar Rp. 338.845.200,- digunakan sebagai biaya tak terduga. Modal produksi akan kembali (BEP) pada nilai sebesar Rp. 5.563.137.300 pada tahun ke-5 bulan ke-9.


Tentang 3id01

nothing for this time :D
Tulisan ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s